Wednesday, May 12, 2010

Berbisnis itu susah !

Kadang kita sering mendengar ato membaca sebuah artikel yang berisi profil seorang pengusaha sukses yang kemudian berkata,"sebenarnya, menjalankan sebuah bisnis itu mudah loh, klo kita tau caranya". Ya, jelas dong! Nyari caranya itu yang gak mudah. Dasar dodol! Kadang kita mesti nabrak sana – nabrak sini sebelum nemu jalannya. Seorang Bob Sadino aja, sempat curhat diacaranya Kick Andi, bahwa sebenarnya, dia rada bosen juga diundang ke acara seminar yang audien-nya nanyain kiat2 sukses menjadi seorang pengusaha. "Mbok ya-o sekali-kali saya ditanyai kiat2 gagal menjalani usaha", katanya. Tapi, itulah kenyataannya. Klo ternyata ada orang yang mulus-mulus aja menjalankan usaha mandirinya, kita bisa cek & ricek dulu tuh. Bisa jadi, orang itu lahir dari keluarga pebisnis … ato mungkin punya ortu kaya yang sanggup beri dia modal bejibun … ato juga karena kebetulan ortu mereka punya jabatan mentereng … Klo gitu mah, ya jelas aja dia punya support system yang bagus untuk sukses, hahaha

Dulu, pak dosen pernah bilang bahwa, ada 3 macam tipe mahasiswa setelah berhasil lulus dari kuliahnya. (1) mahasiswa yang pinter, akan bablas jadi dosen … (2) mahasiswa yang tergolong biasa-biasa aja, akan sibuk nglamar kerjaan kesana-sini … (3) sedangkan mahasiswa yang merasa bodoh, akan berpikir mencetak kartu nama sebanyak-banyaknya sebagai modal membuka usaha sendiri, artinya : umumnya orang menjadi pengusaha itu adalah karena faktor keterpaksaan”. Terpaksa karena pendidikannya rendah - terpaksa karena gak pinter. Jadi, awal mula mereka memutuskan berbisnis sendiri (umumnya) karena merasa sulit bersaing mendapatkan pekerjaan, eh! ternyata malah sukses. Ada yang sukses jadi pengusaha warkop, meski cuma lulusan SMP … ato sukses jadi pengusaha bakso yang punyai gerai dimana-mana, tapi malah gak pernah mengenal yang namanya bangku kuliah. Paradigma seperti ini nih … berbisnis karena "keterpaksaan" / the power of kepepet yang harus dirubah. Tapi sekali lagi … ini gak mudah. Karena berbisnis itu susah !!

Umumnya orang, kuatir sama yang namanya : GAGAL. Padahal, yang namanya sukses dan gagal itu merupakan satu kesatuan yang utuh. Satu paket dan gak bisa dipisah-pisahkan. Klo mau sukses, yaa … harus berani gagal. Makanya ada buku “Berani Gagal” punyanya orang Malaysia (klo ga salah …). Kita harus berani gagal, dan celakanya … menghadapi kegagalan itu gak mudah, hahahaha !!! Edison aja butuh 8889 kali percobaan gagal sebelum akhirnya lampu menyala, gilee … (artikel komplit bisa di klik di Thomas Alfa Edison).

Bayangkan 8889 kali gagal ! Ini bukan pekerjaan mudah, men ... Butuh tekad dan mental baja. Butuh pengorbanan waktu tenaga biaya … dan juga pikiran. Hambatan halangan rintangan … bisa jadi menu sarapan sehari-hari. Mungkin kita bisa recovery by myself untuk sebuah kegagalan, tapi untuk recovery dari faktor luar ?!?!? wee … itu gak mudah. Klo di pelajaran statistik ada y = a + bx1 + cx2 + ... + e, e itu kan faktor error. Ada yang menyebutnya, faktor bias. Tapi, bisa juga disebut faktor eksternal. Faktor ato pengaruh yang muncul di luar dari faktor-faktor yang diprediksikan. Dalam kehidupan sehari-hari, faktor eksternal ini bisa datang dari istri/suami, ortu, mertua, tetangga, ato lainnya. It’s so hard, men …

Tapi jangan kuatir … bayangan kesulitan itu, sebagian besar memang cuma ada di main frame kita aja. Sedangkan hardware dan software kita, semestinya sudah didesain sukses dari sononya. Kuncinya cuma : fokussedikit nekat … dan jangan dipikir lama2. Para penjahat aja, klo fokus, dia pasti akan menuai kesuksesan juga. Mungkin mereka harus keluar-masuk bui dulu beberapa kali, sebelum benar-benar menjadi ahlinya. Tapi, itulah proses. Sayangnya … kisah sukses para penjahat ini, belum pernah ada yang membukukannya. Klo pun ada, sifatnya masih samar-samar. Kuatir mengganggu keseimbangan alam. Sebab, dalam dunia hitam pun, yang namanya kode etik tetap harus dijaga, hahaha …

Selain ketiga hal di atas (fokus-sedikit nekat-dan jangan dipikir lama2)timing memutuskan untuk berbisnis juga merupakan faktor yang penting. Yup ! waktu (timing). Bicara masalah waktu, hubungannya pasti dengan usia. Semuanya butuh kesiapan mental dan fisik. Klo kita gak mau termasuk golongan pebisnis yang “terpaksa”, kita bisa memulainya dikisaran usia 30an. Alasannya sederhana. Di usia seperti itu, biasanya kita sudah lulus kuliahsudah pernah kerja ikut orang … dan sudah punya sedikit modal untuk berbisnis. Secara mental juga sudah cukup matang. Jadi, jangan ditunda-tunda lagi. Bisnis kecil-kecilan pun, no problemo. Itu malah bagus !

Klo dulu, orang yang mau meninggal cukup menitipkan Iman dan Islam pada anaknya, ... untuk saat ini, gak ada salahnya kita berharap lebih : kutitipkan Iman - Islam - dan banyak perusahaan, serta harta yang berkah berkelimpahan kepada anakku, agar dirinya bisa menjadi manusia yang lebih mulia di dunia dan di akherat kelak, amin

Hahaha … es cao !!!

Artikel terkait :

- Dilema seorang pegawai

- Zona nyaman

- Growth with character