Saturday, July 20, 2013

Rona Ramadhan

Ramadhan telah tiba. Kata para ustadz,”ramadhan adalah bulan penuh berkah”. Tapi, berkah yang seperti apa ?! klo ikut versi para pedagang, berkahnya ramadhan, ya keuntungan mereka (umumnya) akan berlipat-lipat dibanding hari biasa, meski pun di bulan ramadhan banyak bermunculan pesaing dadakan. Gak ngaruh. Tetap untung. Mulai dari pedagang kuliner, pakaian ato bahkan pedagang sembako. Gimana dengan berkah menurut versi para ustadz ?! biasanya, di bulan ramadhan, mereka akan kebanjiran banyak job untuk mengisi acara pengajian yang bisa membuat penghasilan dan popularitas mereka meningkat, hehehe … klo menurut versi para pegawai kantoran ?!? hehehe … pastinya dapet THR dan waktu libur bersama. Bagaimana dengan versi para pengusaha jasa angkutan ?!? weh-weh, hampir semua tarip angkutan akan naik. Bukan cuma 2 x lipat, tapi bisa berlipat-lipat, hehehe …   Gimana dengan berkah bagi para pemulung ?! waahh … jangan ditanya. Mereka  bahkan masih bekerja saat kita selesai solat ied, hehehe Lha klo versi para pengemis ?! mungkin 11-12 dengan para pemulung. Bagaimana dengan para pengusaha kayu, rotan dan hasil hutan lainnya ?! wahh … bisa jadi, gudang row material mereka mendadak sempit, wkwkwkwk !!!  Tapi, … apa seperti itu yang dibilang berkah ramadhan ?!

Bahkan, ... saat bulan ramadhan tiba, sebagian dari kita justru malah terserang wabah penyakit kalut. Kalut nyari makan berbuka puasa … kalut gadaikan barang untuk beli perhiasan … kalut mikirin duit untuk angpao anak-anak kecil di tetangga kanan-kiri … kalut nyiapin angpao untuk sanak sodara … kalut cari tiket mudik … kalut mikirin persiapan reunian dengan temen-temen … macam-macam dah. 

Rada ngeri juga klo akhirnya kita beranggapan, bahwa berkah ramadhan itu ujung-ujungnya di seputaran masalah duit. Dapet duit banyak. Dapat bonus gedean, dan lain-lain. Klo kita punya banyak duit , maka kita akan merasa bahagia saat menjalani ramadhan. Semua kekalutan yang ada, bisa teratasi. Tenangggg … hehehe … 

Kenapa jadi begini ?! kenapa yang dijelaskan di kitab suci, bisa jadi agak berbeda dengan kenyataan di sekitar kita ?! mesjid, langgar, ato mushola justru cuma rame diawalnya saja. Siang hari, begitu banyak tubuh berlimpangan tertidur pulas di teras mesjid. Tapi, begitu waktu ashar tiba, mereka malah pada ngacir, hehehe … Bahkan, pengalaman penulis saat kul-kul dulu, jelang H-7, mesjid sekelas Asrama Haji pun bisa sepi pengunjung. Para mahasiswa dah pada mudik ke kampungnya masing-masing. Takjil yang biasanya cuma kebagian 1 bungkus dan harus antri panjang, akhirnya disuruh takmir mesjid untuk membawa pulang 4 bungkus lagi daripada mubazir, hehehe

Hiii … ngeri. Kenapa justru di bulan ramadhan yang cuma sebulan, kita begitu jor-joran ngurusi urusan dunia ?! Kenapa di bulan puasa, perut kita malah keliatan bertambah gendut ?! kenapa di bulan puasa, pengeluaran kita justru bertambah banyak ?! kenapa di bulan puasa, kualitas ibadah kita malah tetap “konsisten” seperti di bulan-bulan yang lain ?! solat wajib masih bolong-bolong. Gak sempat tadarrusan. Solat terawih cuma sekali diawal, dan yang gak boleh ketinggalan … solat ied bersama keluarga dengan baju baru, hehehe ...

Hiii … ngeri. Tapi, mau gimana lagi ?! itulah rona ramadhan. Bulan penuh berkah. Bulan khusus, dimana Raja Manusia meminta langsung kepada kita untuk beribadah hanya untukNYA. Sehingga, ... satu kebaikan, bisa dibalas dengan berlipat-lipat pahala. Tapi, … satu kejelekan pun (pastinya) akan mendapat ganjaran yang berlipat-lipat juga, hehehe


Artikel yang lain :

Friday, July 19, 2013

Buat Calon Mantu

Fulan … aku gak tahu, kenapa puteriku akhirnya memilihmu menjadi bakal suaminya. Aku juga gak tahu … apakah kamu bisa menjaganya dengan baik kelak. Sebab, kamu bukanlah laki-laki yang menjadi pilihanku. Tapi, … kalau pun kamu adalah lelaki pilihanku … aku pun juga gak akan pernah tahu, apakah kamu akan bisa menjaganya sebaik yang aku bisa lakukan selama ini. Yang aku tahu … aku sangat sayang puteriku. Aku sulit tidur selama dia masih dalam kandungan ibunya. Aku menyaksikan detik-detik saat dia keluar dari dalam rahim ibunya. Aku mengazankan dan qomat di kedua telinganya dengan perlahan. Aku memandikan dan mengganti popoknya di pagi, siang dan malam, di hari-harinya menjalani kehidupan barunya. Aku memarahi dan menghukumnya, saat aku merasa dia berbuat salah. Tapi, aku juga memijat dan memeluknya saat dia sakit. Aku selalu bercerita dan membelai rambutnya saat dia beranjak tidur. Dan saat dia mulai terlelap … aku selalu berdoa di dekat telinganya, agar dia menjadi anak yang baik, lalu menciumi kening dan kedua pipinya. Aku terjaga di malam hari, hanya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Aku mengantarkannya sekolah sejak dia mulai berseragam sekolah. Aku banyak menasehatinya tentang hal-hal yang benar, saat dia masih kecil. Tapi, … setelah dia beranjak dewasa … aku lebih banyak diam dan menikmati saat-saat dia bercerita tentang semua kejadian yang dia alami. Aku selalu berusaha berada di dekatnya saat dia merasa bersedih hati. Hingga akhirnya, tibalah hari ini. Hari dimana dia akan menjalani hari-hari yang baru dengan kamu sebagai bakal suaminya.